March 1, 2020

A New Start in 2020

Judulnya A New Start In 2020, tapi baru Bulan Maret ini ngepost :p The last post was April 2019 hahaha Masya Allah udah lama juga yaa..

Sebenernya udah dari kapan tau pengen rutinin ngeblog lagi, tapi seems another activities were more priority to do, soo yahh gini deh, saat benar-benar punya 'waktu' baru deh. Sebenernya isi blog ku pun ya gitu gitu aja, about my life, curhatan, ya kalo ada yang bermanfaat alhamdulillah ya. Dan seems another socmed seems more interesting right now, kaya instagram dan youtube hihi. Tapi, karena mungkin dari kelas 6 SD sudah suka nulis diary, jadi nge blog pun (sampai jadi ibu dua anak) masih jadi salah satu favorite things.

Kesibukan sebagai ibu rumah tangga pun ga memungkiri sulitnya aku untuk punya waktu ngeblog. Masya Allah yaa, Ashraf (3,5 tahun) sama Runa (1tahun 4 bulan) itu sekarang menurut aku lagi masa aktif - aktifnya sih. Mereka sekarang udah bisa berkolaborasi menciptakan kekacauan daaan kebahagiaan tentunya hahaha. But I feel really blessed to be a part of my family 😊 

There are a lot  things I want to write. Resolusi di tahun 2020 ini, keluarga, diri sendiri, dll. InsyaAllah bismillah yaa pelan pelan semoga bisa merutinkan lagi ngeblognya. Semangat Bun O! 🤣

April 5, 2019

Toilet Training Ashraf

Alhamdulillahirobbil'alamiin setelah kurang lebih 2 minggu proses toilet training, now I can say that Ashraf Lulus Toilet Training! Yeay!

Setelah drama yang lumayan panjang akhirnya dia berhasil lepas pampers (sbnrnya dia pake merk fitti, tp udh kebiasa aja ngmg pospak itu pampers. Siapa yg samaan? Tos! )

Awal cerita, dari umur 2,5 tahun Ashraf sering dibriefing untuk mulai belajar lepas pampers karena udah besar, tapi selalu berakhir dengan jawaban maunya pakai pampers. Selalu gitu jawabannya, kadang diselingi ngerengek, nah ini buat saya jadi ragu untuk mulai TT. Sampai saya akhirnya tanya teman-teman, kakak-kakak, baca-baca artikel, tanya psikolog, kemudian mendapat tanggapan yang variatif. Ada yang bilang santai aja tunggu anak siap jangan dipaksa. Ada juga yang bilang ya umur-umur TT itu 18bulan sampai 3 tahun jadi insyaAllah sudah tergolong siap.

Sampai akhirnya saya ikut kulwhap tentang psikoseksual & berakhir curhat dengan pematerinya yang adalah seorang psikolog bernama Mba Irsa Frillya. Saya cerita tentang Ashraf saat di briefing untuk TT yang menolak keras sampai nangis jejeritan. Apakah reaksinya yang seperti itu menandakan dia belum siap untuk TT? Jawaban Mba Irsa, Ashraf sudah siap di umurnya sekarang, reaksi Ashraf yang selalu menolak itu adalah tantrum, jadi pelan-pelan diajarkan untuk TT insyaAllah bisa. Saya jadi semangat untuk memulai TT. 

Akhirnya dimulailah proses TT Ashraf. Bagaimana hari pertama dia TT? Drama sih pastinya. Tantrum dengan nangis jejeritan maunya pakai pampers. Tapi saya berusaha untuk tenang & ga nyerah untuk tetap memulai TT hari itu. Saya selalu mengingatkan diri saya "its gonna be though for me & him, so be strong, you start you must finish it". 

Hari pertama masih bocor sana sini. Padahal setiap 30 menit udah diajak pipis ke kamar mandi. Tapi selalu berujung tiba tiba udah ngompol. Gregetan? Gausa ditanya hehe tapi katanya emang kalo TT itu emaknya kudu ekstra sabar jadi ga boleh deh tu kita marah perihal begitu. Kadang-kadang kalau saya ga sengaja kelepasan marah karena capek bilangin & bersihin ompol, Ashraf langsung bilang "Kok Bunda marah?" hmm jadinya diturunin lagi deh nada ngomongnya, langsung minta maaf ke anaknya, & ganti kata-kata yang lebih baik. Memang awal-awal TT ga boleh bosen untuk tanya "mau pipis ga?", dan berulang ngingetin "kalau mau pipis bilang ya, nanti pipisnya di kamar mandi". 

Timing lepas pampers yang saya terapin di hari pertama itu lepas pampers dari pagi sampai dia tidur siang & malam menjelang tidur dipakaikan lagi. Lama kelamaan saat dia sudah bisa bilang mau pipis, tidur siang saya tidak pakaikan pampers lagi . Karena setelah saya cek ternyata setiap bangun tidur siang pampers masih kering. Begitu pula saat tidur malam, awal masih saya pakaikan pampers, setelah dia sudah mulai mahir TT & dicek paginya ternyata pampers masih kering, saya mulai lepas pampersnya. Setiap bangun tidur siang & malam selalu saya tanya mau pipis atau ngga. Alhamdulillah sekarang sudah pintar pipis di wc, no more bocor. 

Untuk masalah pup memang lebih lama prosesnya untuk Ashraf. Awal-awal TT dia masih ingin pup pakai pampers. Pernah waktu itu diajak pup di wc tapi pupnya ga keluar. Kaya hilang fokus gitu ya.. terus akhirnya saya coba tempel stiker gambar mobil di kamar mandi biar dia mau pup di kamar mandi. Niatnya supaya Ashraf betah di kamar mandi. Selain itu saya beri buku lokal tentang TT judulnya "Aku Mau Pup Sendiri". Di buku itu ada anak laki-laki bernama Boni yang belajar pup di wc bersama ibunya. Alhamdulillah setelah baca buku itu, dirayu-rayu juga sambil dibilangin "Ashraf pupnya di wc yaa kaya Boni tu, Ayah, Bunda, Eyang, Nini, Onti, Om, semuanya pup di wc, kalau pup di pampers nanti pantatnya jadi kotor, kalau di wc pupnya bisa langsung masuk lubang", sekarang sudah mau pup di wc, setiap pingin pup bilang "Bunda mau pup di wc kaya Boni" hehehe.

Kalau menurut saya, proses TT ini mirip dengan proses menyapih yaa.. Sama-sama ada dramanya hehe, ya kan buibuuk? Memang kitanya kudu ekstra sabar sambil doa sama Allah untuk dimudahkan prosesnya. Semangat buat ibu ibu lain yang sedang menjalani proses TT anaknya :) 


October 17, 2018

Prenatal Yoga di Rumah

Di kehamilan kedua ini saya lebih banyak mempelajari tentang prenatal yoga dan hypnobirthing sebagai persiapan menghadapi proses persalinan nanti. Waktu dulu hamil anak pertama saya blas ga pernah tahu tentang prenatal yoga dan hypnobirthing, lebih kepada pregnancy workout dan jalan kaki saja. Kenapa beralih ke prenatal yoga? Mungkin karena sudah mengalami melahirkan anak pertama yang meninggalkan sedikit trauma karena ingat rasa sakitnya, merasa kurang baik dari teknik pernafasan, mengejan, dan lain lain. Pasca melahirkan badan berasa habis digebukin, capek semua, otot tegang, kaki, tangan, leher, bahkan paru paru, sampai bernafas saja rasanya sakit. Saya pikir saya kurang persiapan saat itu.

Menurut Ibu Lanny Kuswandi juga yoga itu berbeda dengan senam hamil. Kalau senam hamil lebih kepada persiapan fisik ibu hamil menghadapi persalinan, sedangkan yoga ada teknik-teknik pernafasan, relaksasi, dan latihan otot yang mana termasuk ke dalam hypnobrthing itu sendiri. Sehingga tujuannya proses melahirkan itu bisa mudah, minim trauma, dan menyenangkan. Itu sih yang bisa saya simpulkan.

Jadilah mulai baca baca lagi tentang  info-info persiapan proses persalinan untuk anak kedua ini. Pikir saya harus lebih menyiapkan diri di proses persalinan kedua ini. Nah, alhamdulillah Allah paring saya diberi ilham tentang prenatal yoga. Saya lupa, mungkin setelah follow akun instagram @jamilatus.sadiyah dan ibu @lannykuswandi, saya jadi lebih tahu tentang prenatal yoga dan hypnobirthing. Mereka ada kelas prenatal yoga di @provclinic di daerah Permata Hijau, Jakarta Selatan. Tadinya saya mau ikutan kelas prenatal yoga disana, tapi karena situasi dan kondisi yang sepertinya tidak memungkinkan, saya memutuskan melakukan prenatal yoga di rumah saja. bermodalkan alas board mat dan youtube. Selain bisa menyesuaikan waktu luang saya, juga lebih minim biaya ya hehehe tentu saja ada kekurangan dan kelebihannya untuk yoga di rumah mau pun di kelas yoga.

So, saya punya video prenatal yoga andalan nih di Youtube. Ini juga hasil baca artikelnya Andra Alodita. Videonya berjumlah lima episode dari Katy Appleton. Biasanya saya sekali yoga mengikuti dua sampai lima episodenya.


Ini salah satu episode prenatal yoganya. Ini episode pertama, untuk episode lainnya bisa di search sendiri yah ;)

Selain itu, menginjak trisemester ketiga saya ketemu prenatal yoga yang juga enak untuk diikuti. Durasi videonya setengah jam oleh  Lara Dutta.




Oke itulah sharing saya tentang video prenatal yoga di youtube yang saya ikuti. Semoga bermanfaat :)

September 28, 2018

Rencana Melahirkan Anak Kedua di Puskemas Kecamatan

Jadi, waktu usia kandungan saya memasuki 28 minggu, saya dan suami memang sudah merencanakan untuk kembali kontrol hamil di RSUD Kebayoran Baru. Karena sudah masuk di trisemester 3 dan berniat akan melahirkan disana (karena kalau mau lahiran di RSUD, minimal sudah 3x kontrol disana). Selain itu niatnya juga ingin melihat gender si bayi. Di puskesmas kecamatan kebetulan tidak disediakan fasilitas usg oleh dokter spesialis, jadi selama kontrol disana tidak pernah usg.

Saya, suami, & anak pertama saya ke RSUD hari Sabtu pagi, berharap temu kangen kembali dengan Dr. Wiasni. Namun, setelah akhirnya mendapat giliran masuk ruang dokter, saya kaget ternyata dokternya laki-laki  bukan dokter Wiasni. Ternyata Dr. Wiasni sedang cuti hamil sampai dengan bulan Oktober. Saya sempat lupa juga dengan nama jelas dokter laki-laki ini. Sebenarnya saya risih ya kalau dokternya laki-laki bahkan hanya untuk usg. Tapi mau bagainana lagi sudah kepalang tanggung masuk ruang dokter.

Menurut saya dokter ini kurang informatif ya. Setiap kita tanya sesuatu dia akan jawab dengan pertanyaan lagi. Contohnya saat suami saya tanya "bagaimana dok?". Si dokter malah jawab, "Bapak mau lihat apa? Disini bisa banyak bla bla bla..". Trus giliran saya tanya "gimana dok ideal ga berat badannya?", dia jawab "iyaa kan saya harus ukur dulu yaa, ga bisa langsung..". Intinya jawaban dokter ini ga menyenangkan hati,, seolah-olah kita tunggu dia ngomong aja padahal dia juga ga menjelaskan apa-apa dari usg itu. Berbeda sama Dr. Wiasni yang ramah, baik, & informatif. Sayang sekali beliau cuti bertepatan saya mau rutin kontrol di RSUD ini. Kata-kata yang membahagiakan dari dokter laki-laki ini cuma waktu dia bilang 80%-90% gender bayinya perempuan.

Selesai konsultasi dengan dokter, saya & suami berniat mencari info kembali tentang biaya, fasilitas pelayanan persalinan di RSUD Kebayoran Baru. Dari info yang kami dapat, biaya persalinan normal disana kurang lebih kalau dihitung-hitung bisa sampai 3juta(sudah termasuk biaya rawat inap kelas 2, persalinan) dan bisa bpjs kalau dirujuk. Proses persalinan dibantu oleh bidan yang dibimbing oleh dokter yang pada saat itu praktik. Maksudnya, kita tidak dibantu oleh dokter yang biasa kontrol kita. Suami dan saya pikir, pelayanan tidak jauh beda dengan persalinan di puskesmas tapi biaya lebih besar di RSUD dan hanya bisa BPJS kalau ada rujukan.

Membandingkan cara pelayanan selama kontrol, biaya dan proses persalinan antara di RSUD & Puskesmas, akhirnya saya dan suami memutuskan insyaAllah akan melahirkan kembali di Puskesmas Kecamatan Cilandak, yang fasilitas rawat inap kelas 3 selama 2 hari, persalinan oleh bidan, dan bisa BPJS tanpa rujukan. Semoga semua berjalan aman selamat lancar barokah. Amiiiin :)


#34weekspregnancy

May 29, 2018

Kontrol Hamil Pertama di RSUD Kebayoran Baru

Setelah mendapati dua strip di tespack,  saya dan suami mulai mencari pilihan dimana kami akan kontrol rutin kehamilan kedua ini. Awalnya,  pilihan ada pada  Klinik Puri Mutiara karena dekat dengan rumah tinggal jalan kaki sampai.  Namun,  setelah saya telefon ke klinik tersebut untuk mencari informasi, ternyata disana sedang tidak standby dokter spesialis kandungan,  kontrol ditangani oleh dokter umum dan melahirkan ditangani oleh bidan dan menerima bpjs hanya dengan rujukan.  Saya tidak yakin dan akhirnya pilihan beralih kembali ke Puskesmas Cilandak atau RSUD Kebayoran Baru.

Saya dan suami memutuskan kontrol pertama di RSUD Kebayoran Baru.  Letaknya tidak jauh dari rumah namun tetap harus dengan kendaraan. RSUD ini terletak di Jl. H. Abd Majid II No.23, RT.2/RW.5, Cipete Utara, Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410. Untuk lebih lengkapnya silahkan search di Google :)

RSUD ini termasuk baru dibangun,  sekitar pertengahan tahun 2017 kalau saya lihat dari artikel di google. Saya sempat ragu awalnya,  apakah sudah memadai fasilitas dan SDM nya.  Tetapi, setelah saya datang kesana,  pelayanannya sudah termasuk baik dan bagus. Sudah ada karyawan dan dokter yang berjaga disana. Sudah terlihat sibuk lah di dalamnya. Dokter, perawat, dan karyawan yang bekerja disana menurut saya ramah dan welcome. Walaupun di bagian administrasinya masih kurang begitu rapi ya.  

Bangunannya masih bersih dan rapi. Terdiri dari 7 lantai dan tiap lantai dibagi oleh beberapa poli pelayanan kesehatan.  Bagian administrasi seperti pendaftaran, pembayaran, serta penerimaan obat ada di lt.2. Di lantai 2 ini juga terdapat poli gigi, penyakit dalam, umum, dan fisioterapi. Di lantai 3 ada poli kandungan dan poli anak. Di lantai 4 merupakan tempat untuk bersalin dan juga rawat inap. Untuk lantai 5 dan seterusnya, saya kurang paham karena waktu itu hanya berkunjung sampai lantai 4 didampingi oleh satpam perempuan yang ramah disana.

RSUD ini sama dengan RSUD pada umumnya, menyediakan 2 tipe layanan kesehatan juga,  ada umum dan BPJS.  Biasanya kalau mau menggunakan bpjs harus ada rujukan dari puskesmas,  jadi kalau tidak ada rujukan ya dapetnya yang umum. Tapi menurut saya untuk  biaya  pun disini termasuk terjangkau karena mungkin sudah disubsidi oleh pemerintah juga.  Untuk biaya administrasi sebesar 30.000 rupiah dan mendapat kartu kontrol berwarna hijau yang menurut saya perlu dilaminating secara pribadi agar tidak rusak bila terkena basah, karena bahan kartunya dari kertas karton biasa. Mungkin saran untuk RSUD agar kartunya diperbagus kualitasnya :)

 Setelah melakukan pendaftaran di lantai 2, saya  ke lantai 3 untuk pemeriksaan dengan spesialis kandungan (obgyn).  Saya diperiksa oleh dokter perempuan bernama Dr. Wiasni Apriliani .  Di RSUD ini ada 2 spesialis obygn,  1 perempuan untuk jam 8-13, dan 1 lagi laki-laki untuk jam 13-18. Saat itu saya periksa di waktu weekdays, hari Selasa kalau tidak salah, dan alhamdulillahnya tidak begitu panjang antriannya. Saya langsung masuk ke ruang dokter spesialis. Kontrol kehamilan di RSUD ini seperti di Puskesmas, mendapatkan buku kontrol kehamilan berwarna pink. Saya senang karena memang buku kontrol ini menurut saya isinya bagus dan lengkap.

Alhamdulillah setelah di usg saya positif hamil 6 minggu saat itu. Biaya usg di print plus konsultasi dengan dokternya sebesar 100.000 rupiah.  Dengan obat asam folat hanya dikenakan 3.000 rupiah.
Alhamdulillah saya merasa senang dan puas sudah periksa kehamilan kedua saya ini di RSUD Kebayoran Baru. 

Setelah selesai mengurus biaya administrasi,  saya minta ke bagian sekuriti untuk kunjungan sedikit ke ruang rawat inap dan bersalin.  Ternyata khusus lantai 4 disediakan untuk bersalin dan rawat inapnya.1 ruang rawat inap terdiri dari 4 ranjang tidur,  yang menurut saya pas tidak terlalu ramai seperti di puskesmas yang 1 kamarnya sekitar 10 orang.  1 ruang terdapat 1 kamar mandi.  Ruang bersalinnya juga saya lihat termasuk lengkap peralatannya.

Untuk kontrol selanjutnya mungkin saya akan kontrol di Puskesmas Kecamatan Cilandak sampai usia kehamilan saya memasuki trisemester 3. Setelah usia kehamilan saya mencapai usia 7 bulan InsyaAllah saya akan kontrol lebih intensif  dan bisa melahirkan di RSUD Kebayoran Baru. Semoga Allah paring aman, selamat, lancar, barokah. Amiiin..

Sekian ulasan saya tentang pengalaman kontrol kehamilan pertama saya di RSUD Kebayoran Baru. Semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang lain. :)